Tren diet plant-based yang melanda dunia kini menemukan resonansi kuat di Asia, dengan kebangkitan kembali protein nabati tradisional seperti tahu sutra, tempe, dan berbagai olahan kedelai lainnya. Makanan yang dulunya dianggap sederhana kini diadaptasi menjadi hidangan modern yang lezat dan bergizi, menarik perhatian kaum muda dan sadar kesehatan.
Berbeda dengan produk daging nabati yang diproses secara intensif di Barat, tren di Asia lebih mengarah pada bahan-bahan utuh dan metode fermentasi kuno. Tempe, misalnya, yang merupakan protein lengkap dari kedelai terfermentasi, kini menjadi “superfood” yang dicari tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional.
Popularitas ini didorong oleh meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan dari peternakan, manfaat kesehatan dari diet nabati, dan keinginan untuk kembali ke akar kuliner yang berkelanjutan. Restoran-restoran fine-dining dan cafe modern mulai menyajikan hidangan inovatif berbasis tempe, tahu, atau jamur sebagai bintang utama.
Para koki dan inovator makanan bereksperimen dengan tekstur dan rasa, menciptakan burger tempe gourmet, sate tahu sutra, dan nugget jamur yang menggugah selera. Resep-resep tradisional pun diinterpretasikan ulang dengan sentuhan kontemporer untuk menarik minat generasi milenial dan Gen Z.
Secara keseluruhan, kebangkitan diet plant-based di Asia bukan sekadar tren sesaat, melainkan refleksi dari pergeseran nilai menuju keberlanjutan, kesehatan, dan apresiasi terhadap kekayaan kuliner lokal. Ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat berinovasi untuk memenuhi tuntutan gaya hidup modern.

