Bisnis di Asia menghadapi ancaman ransomware yang semakin besar, di mana data penting dienkripsi oleh hacker yang menuntut tebusan uang kripto. Frekuensi dan kecanggihan serangan ini meningkat, menargetkan sektor-sektor kritis seperti keuangan, kesehatan, dan manufaktur.
Ancaman ini diperparah oleh praktik keamanan siber yang seringkali lemah di perusahaan-perusahaan kecil dan menengah (UKM) Asia, yang kurang memiliki sumber daya untuk pertahanan siber yang kuat. Hacker mengeksploitasi celah dalam sistem lama (legacy systems) dan kesalahan konfigurasi jaringan.
Dampak ransomware tidak hanya kerugian finansial dari tebusan, tetapi juga kerusakan reputasi dan gangguan operasional yang signifikan, yang dapat melumpuhkan seluruh rantai pasokan. Pemerintah Asia didorong untuk memperkuat regulasi keamanan siber dan mendorong Zero Trust Architecture.
Respons yang efektif membutuhkan investasi pada solusi backup data yang off-site dan terisolasi, serta pelatihan kesadaran keamanan bagi karyawan. Kolaborasi regional untuk berbagi intelijen ancaman juga krusial dalam melawan kejahatan siber yang bersifat lintas batas.
Ancaman ransomware terbesar menargetkan bisnis Asia, terutama UKM, mengeksploitasi keamanan yang lemah dan sistem lama. Serangan menyebabkan kerugian finansial dan gangguan operasional yang signifikan.

