DEEP DIVE: ‘Ekonomi Warung’ RI vs Kapitalisme Global. Siapa Menang?

DEEP DIVE: ‘Ekonomi Warung’ RI vs Kapitalisme Global. Siapa Menang?

0 0
Read Time:54 Second

Raksasa global (Starbucks, 7-Eleven) masuk ke tiap jengkal kota kita. Kapitalisme global itu kayak ‘tsunami’. Tapi kok anehnya, ‘Warung Madura’, ‘Warteg Bahari’, dan ‘Kopi Klotok’ gak mati-mati? Malah makin gacor?

Ini dia ‘senjata rahasia’ kita: ‘Community-Based Economy’. Warung Madura itu bukan cuma ‘jual mi instan’. Dia jual ‘kepercayaan’. Dia ‘kenal’ sama Pak RT, dia ngasih ‘kasbon’ ke tetangga. Raksasa ritel global gak bisa niru ini!

Kapitalisme global mainnya ‘efisiensi’ dan ‘skala’. Ekonomi komunitas mainnya ‘relasi’ dan ‘trust’ (kepercayaan). Di Indonesia, ‘trust’ itu lebih mahal dari ‘diskon’. Kita lebih percaya ‘rekomendasi tetangga’ daripada ‘iklan di IG’.

Jadi, bukan ‘vs’, tapi ‘dan’. Masa depan bisnis RI itu hybrid. Kita butuh efisiensi global, tapi ‘dibungkus’ pakai ‘rasa’ komunitas lokal. Brand yang bisa ‘kawin-in’ teknologi canggih (Kapitalisme) sama ‘sapaan hangat’ (Komunitas) yang bakal jadi raja.

Intisari:

  1. Ekonomi berbasis komunitas (warung, warteg) terbukti tangguh melawan gempuran kapitalisme global.
  2. Kekuatan ekonomi komunitas bukan ‘efisiensi’, melainkan ‘relasi’ dan ‘kepercayaan’ (trust).
  3. Di Indonesia, faktor kepercayaan (trust) seringkali mengalahkan faktor harga (diskon).
  4. Masa depan bisnis RI adalah hybrid: mengawinkan teknologi global dengan sentuhan komunitas lokal.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%